Selasa, 21 Februari 2012

BUTIRAN HARAP

Lihatlah ke atas,mengapa awan begitu pekat dan mendung

Entah kenapa,kata itu ingin ku samapaikan padamu

Karna sesungguhnya hati ini menangis

Mungkin perasaanku menyatu,diantara ribuan butiran gerimis hitam pekatnya awan

 Aku selalu ingin bercerita padamu

Meski sebentuk raga ini tak pernah menyatu

Meski tak pernah terkisah dan meski ku tak tahu dimana kau sekarang 

 Tapi yakinlah tak pernah ada yang lebih 

Mencintai dan mengaggumi kamu ,selain hati ini

 Tapi kenyataan mungkin berkata lain

Karna butiran harap itu ,kini tak pernah ada

 Sesungguhnya hati ini tak pernah ingin kecewa

 Tapi biarlah beban cerita ini aku jalani


BY:

SATU SENYUM SAJA

Ku baca hatimu ,Lewat gerak putih senyummu

Manis tanpa sebuah kepura-puraan

 Entah apa yang kupendam,aku tak pernah mencoba tuk memahaminya

Mungkin kau adalah sebingkai kasih 

  Yang tak pernah mampu aku tulis

Meski itu seolah kesan yang aku tutupi

 Tapi yakinlah dalam lamunan ini,kau selalu hadir tuk menawar keindahan

Bak penyejuk dahaga yang selalu di nanti

Meski teratai batin ini rapuh

Tapi batin ini yakin ,akan satu hal

Mungkin kau tak pernah sadar

Pernahkah kau sadari 

Meski langit itu indah,pelangi itu cantik

Mentari senja itu menawan dan laut sangat mempesona

 Tapi di balik keindahan itu

Sesungguhnya bagiku ada yang paling indah

   SENYUMMU.......

Karna sisa batas nafas ini rela 

 Meski itu sebuah nadi yang terhenti

Hanya tuk dapati senyum itu



BY:
 




 
 

DIARY(cerita tentangmu)

Sementara ...aku tak pernah berjalan dalam lamunanku

Di saat ku terhenti ,disitulah ku harus berhenti

Karna segala rasa yang ada ,terasa buatku tak mampu

Sesungguhnya jalan ini tak pernah terkisah sebagaimana mestinnya

 Karna kenyataan yang ada terlalu pekat tuk di jalani

 Mungkin senyum ini  tlah terantai sosokmu

 Sempurna dan begitu indah

Tapi jurang ini terlalu dalam 

Hingga menepis segala harap yang ada

 Aku tak  pernah yakin atas batasku

Mungkin kenyataanya karna hati ini terlalu pengecut

Hingga kini yang ada adalah sesal

Entah apa ,aku tak pernah tahu 

Haruskah kupasang wajah senyum,dengan berjuta kepuraan

Sementara kau di situ ,bahagia dengan jemari indahmu

 Mungkin jalan ini,harus aku relakan

Walau dalam sudut batas kepedihan



BY:

GANGGA

Menanti tentang tanda yang tak pernah teretas

Meski panjang jauh dan tak berujung

Hati ini kan selalu berjalan dan trus berjalan

Menyusuri dan menempuh akan adannya jalan itu

 Karna segala waktu yang ada

 Seolah hadir melukis segala kesanggupan nafas ini

Tak peduli entah apa yang membatasi langkah ini

Meski itu kau yang terkias indah 

Menyerupai hilir  terindah ,yang nyata bak permata gangga

 Tapi bisikkan jalan ini tak kan pernah terhenti

Meski rantai taqdir ini tlah tertentukan

Bahwa kau bukan aliran nadi ini 




BY:

PERJALANAN AKHIR

Entah harus berapa lama lagi kutanggung letih paru ini

Diatas pijak ,kugenggam mata do'aku

Bersandar raga atas taman jiwa ini

 Tertabur dusta akan ribuan peluh tanda tabirku

Yang tertanggung jamak pada mata pundak ini

 Jiwa ini mungkin bukan milik raga ini

Karena jiwa ini tak berhak memilih

 Tertakdir pada jalan yang semestinya

Sesungguhnya coretan setiap langkah ini tlah melafal

 Dalam sebentuk perjalanan yang tlah terlewati

           Ya TUHAN....................

Genggamlah setiap nafas-nafasku dalam jalan......

 Yang tergambar dalam sucinya kalimatmu

Karna sesungguhnya sebentuk jiwa ini tlah merapuh

 Akan dosa-dosa yang ada



BY:

KINI TERBARING SELAMANYA

Kau pernah merasakan sebentuk jiwa

Yang terkisah membentuk cerita

Tersesal luka,tergambar tawa

Mengkias sebuah goresan memori yang tak pernah hilang

 Tak tergambar takdir , tak terlukis nadi

Karna segala rasa tlah terbang

Bersama setiap kenangan yang ada

 Kini sebentuk hati ini

Mencoba berdiri diatas titik nadi

Mengurai senyum ,memendam ribuan tangis

Karna sebentuk hati itu

 Telah terbaring selamanya

Bersama berjuta kenangan yang tertinggal




BY:

SAKURA KHATULISTIWA

Terantai senyum tawa kegundahan ini

Di setiap rona mata batinmu

Terlabuh senyum putih kepedihanmu

Meninggalkan cerita dalam bingkisan bait yang usang

 Berdiri  terkaku di hamparan sakura

 Tenang seakan penuh irama

 Tersapu indah bak lukisan khatulistiwa 

  Mengungkap kagum dalam keteduhan rasa

Yang mewujud melukis sebentuk paras pesonamu

Kias itu mungkin sekedar titian fana 

Yang jauh,hitam membentuk kata

Entah itu kagum atau apa

Tapi itu mungkin sebentuk hati yang tak pernah mati

Yang kutandai lewat senyum aslimu




BY:

JEMARI KENANGAN

Masih ada butiran kenangan

Disetiap tangisan buta itu

Karna masih terlintas kata menunggu

Disetiap detik-detik pena itu

 Berjalan seakan penuh harap

 Menandai setiap langkah yang tlah terlewati

 Luka ,tangis,sedih dan pedih

 Menyatu mengikat sebuah cerita

 Membentuk kerikil yang tak pernah terlupa

Akan sebuah nama tentang  kepedihan

Tuk menghitung jemari di setiap kenangan




BY:

Senin, 20 Februari 2012

KIAS TUJUAN(tak pernah berarti)

Mungkin semua membisukan aku

Biarlah ku terkapar dalam misteri dusta

Karna jiwa ini telah muak dengan tanda-tanda batin

 Perasaan ,batin ini tak pernah terasuki ilusi

 Tapi kenapa semua tega,membutakan aku

 Memasung duri dalam tanda kelemahanku 

Seakan raga ini tak mampu bergerak

Tersungkur dan tanpa uluran tangan

Yang sesungguhnya sangat ku butuhkan

Apa sesungguhnya ,ku tak pernah berarti

Berarti dan  Berarti

Aku tak pernah minta sedikitpun tuk di hargai

Tapi jalan ini terlanjung meranjau kaki ini

Merantai butiran-butiran tangan ini

Yang seakan  lumpuh tak bergerak

Entah apa sesungguhnya yang ku tau

Seakan batas hidup ini merapat

Manutup dan tanpa kias tujuan







BY:


Minggu, 19 Februari 2012

TAK PERNAH TERMAKAN MENTARI(setia itu apa)

Lama sekali aku menapaki setapak arang ini

Terkapar jauh dalam sesatnya arah 

Membagi rasa asa dan tanya

Memendam bait yang terkunci padam

Yang tak pernah tau dalam renungan itu apa

Terkisah hanyut dalam lengkapnya debu

 Setitik anggun dalam bayangku tukmu

 Merubah arah redamnya busur hatiku

Lama sekali entahku berjalan

Tak terhitung lagi sudah berapa banyak langkah kudapati

Tapi kesetiaan ini tak pernah sedikitpun termakan mentari

Disini disisa redupnya rembulan

Tuk ku membagi 

Terukir rindu yang tak pernah terucap 

Meski teriring senyum dalam bingkai tanpa suara




BY:


Jumat, 17 Februari 2012

TERBIASA AKAN SAKIT ITU

Tak perlu kau ingat

Apa yang sesungguhnya sulit tuk kau pahami

Mungkin beginilah rasaku ,tak akan pernah berubah hingga nanti

Meski hanya sebatas kagum abadi

Tapi itu nampak hidup bagiku,meski sesungguhnya itu mati untukmu

 Kau tak perlu mengukur dalamnya rasa ini kepadamu

Karna sesungguhnya lautan pun,kan tertegun atas dalamnya hati ini padamu

Jika sekarang kan terganti kepedihan

 Sesungguhnya hati ini tak pernah kaget

Karna aku tau ,ini pun sudah terbiasa

Terbiasa dan terbiasa

Bagiku






BY:
 


MATA SANG HUJAN(atas perasaan ini)

Ada kalanya hujan tak pernah berhenti turun

Tatkala senyum bercampur dengan tangis kepedihan 

Disitulah butiran kenangan mulai terkikis

Entah itu di tengah harap atau bising lamunan rasa

 Sekarang atau esok

Aku tak pernah mencoba berani bermimpi

 Karna ku tau kau tak untukku

Kau entah dimana ,akupun tak tau

Hanya rerintihan butiran hujan yang mungkin, kan

Sampaikan sejuta perasaanku

Entah itu tangis ataupun senyumku

 Terbatas kepedihan ini diantara dataran harap

Apakah mungkin kan da pelangi

Di tengah derasnya hujan itu

 Begitulah perasaanku padamu

Yang kulukis lewat dentingan gerimis pinta




BY:
 

PAGIPUN TAK PERNAH BERBOHONG

Seperti keindahan yang tak pernah terucap

Saat ku coba menatapmu

Mungkin kesempurnaan itu tak akan mudah terhapus

Tertata indah rapi di bilik dinding hati ini

 Biarlah kucoba kan ku rangkai setiap kenangan itu

 Meski tak terurai adannya

Cerita itu tawa itu dan wajah itu

Masih da teriring indah  

Tersapu menawan di balik rambut yang ceria

 Meski hadirmu hanya terkias sekejap pandang

Tapi satu hal yang ada 

 Karna pagi itu tak akan pernah berbohong

Bahwa hadirmu yang terindah

Meski tanpa ucap kata sekalipun




BY:

GELISAH JIWA

Ketika itu aku merasa

Mencari akan tanda yang selalu membelengguku

Aku tak pernah sadar

Untuk mengerti apa yang ada dalam mata batinku

 Jikalau aku terus berjalan 

 Tentu sesat ini selalu datang menghampiri 

 Bukan pertanda untuk kujalani

 Tapi raga ini membingkis hadir yang tak pernah henti

Mungkin muram ini selalu terkias ratapan sedih

Hinggapun hampa entah tak pernah menau adannya

Hanya tumpuan tangan dan lusuhnya kaki 

Tuk batin ini mengharga

 Kalaupun jiwa ini entah mati

 Tapi uraian kenanagan yang ada

Tak pernah mati

Meski itu sulit teringat

Tapi taburan benak tak akan pernah mampu membohongi




BY :

Kamis, 16 Februari 2012

MUARA SATU CINTA

Aku tak pernah berharap kau mengerti

Tapi serpihan ini terlalu perih tuk di jalani

Akupun tak pernah berharap kau mengigat

Karna segala rasa itu ternyata hanya sebuah kiasan kosong

 Mungkin sebilah asa ini tak kan pernah sanggup menatapmu 

 Dengan terbata dusta, hamparan jiwa ini merenda

 Tanpa bait sepi dan kosong

 Tersisipi dingin, membentuk penyesalan

Saat kata tak mampu bicara

Mungkin, sebatas duduk, di bilah pinggir gerbang muara pandang...

Tampak bising, tapi begitu sepi menusuk ratapan hati

Hingga kini, batasan jiwa ini, berjalan hingga nanti

Terucap membingkis kata ,bahwa sejujurnya Hati ini cuma satu

Untukmu kan selamanya Untukmu

Abadi meski tak pernah menyatu




BY :